Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 15 Oktober 2011

siklus DBD


TUGAS BIOLOGI SEL DAN MOLEKUL

SIKLUS DBD
Description: G:\1247750129UMI LOGO.jpg

DISUSUN OLEH :
Nama           : BAJIL
Kelas            : L.1
Stambuk      : 150 2010 063

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2011
Siklus Demam Berdarah
Demam Berdarah Dengue (baca : Denggi), atau disingkat DBD, atau dalam bahasa Inggris disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina.
Virus DBD ini terdiri dari 4 macam dan saling terkait satu sama lain, yaitu tipe DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Jika seseorang pernah mengidap DBD karena 1 tipe virus, bukan berarti orang ini menjadi kebal/imun dengan tipe virus yang lain. Jadi, seseorang bisa terkena DBD hingga 4 kali.
Gejala DBD kadang mirip dengan penyakit lainnya yaitu adanya demam tinggi yang mendadak sekitar 39-40 derajat Celcius. Demam ini akan turun pada hari ketiga atau keempat dimana penderita akan merasa lebih baik padahal sebenarnya inilah fase-fase kritis, dan akan muncul kembali pada hari keenam dan ketujuh.
Description: http://lachicchattenoir.files.wordpress.com/2010/08/siklus-dbd.jpg?w=300&h=148
Pada hari ketiga akan terjadi pengeluaran plasma darah yang ditandai dengan tubuh loyo dan panas tubuh yang menurun. Inilah kondisi kritis pasien dan jika tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan kematian karena kondisi tubuh yang semakin menurun serta pendarahan yang semakin hebat. Oleh karena itu, kenali dengan jelas ciri-ciri DBD sehingga anda dapat memberikan pertolongan yang tepat kepada penderita.
Namun yang patut diwaspadai adalah bila demam itu diikuti dengan nyeri di bagian belakang mata, nyeri pada otot dan persendian dan timbul bercak-bercak merah pada kulit. Gejala ini umumnya timbul 4-6 hari setelah terinfeksi oleh virus. Untuk kondisi yang lebih parah, pasien bisa mengalami nyeri perut dan muntah-muntah. Pada sebagian besar penderita, akan muncul juga pendarahan yang terjadi di gusi, kulit, hidung dan juga pendarahan besar.
Perlu diingat bahwa sampai saat ini penyakit DBD belum ada obatnya. Vaksin DBD kabarnya pun masih dalam proses pengembangan. Yang bisa dilakukan hanyalah merawat pasien agar kondisi tubuhnya jangan terus menurun dengan cara istirahat, minum obat penurun panas (Paracetamol) 3 x sehari selama badan penderita masih panas dan hentikan bila sudah tidak panas lagi, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan minum sebanyak-banyaknya untuk mengurangi pengentalan darah akibat plasma darah yang banyak keluar saat terjadi pendarahan.
Berikan pula oralit atau cairan elektrolit untuk mencegah dehidrasi dan jus buah jambu untuk memperbanyak pembentukan trombosit darah sebagai ganti trombosit darah yang hilang akibat dari pendarahan atau pecahnya pembuluh darah. Pemberian Vitamin atau multivitamin juga dianjurkan untuk menambah kuat daya tahan tubuh dan juga menambah nafsu makan.
Makin kuat daya tahan tubuh, makin besar kemungkinan seseorang dapat menghambat perkembangan virus DBD dalam tubuh.
DBD dapat timbul pada orang yang tinggal di daerah pinggiran terutama yang hidup di daerah kumuh. Umumnya menyerang anak-anak karena sistim imun pada anak-anak tidaklah sekuat orang dewasa. Namun virus tersebut tidak akan mempengaruhi orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang prima yang akan menghambat perkembangbiakan virus Dengue dalam tubuh.
Oleh karena itu, istirahat yang cukup, makan teratur dan olahraga dapat membantu kita untuk menghindar dari penyakit. Jangan lupa pula untuk menjaga kebersihan dan menutup semua lubang yang berair untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk pembawa virus Dengue tersebut.
Perkembangan nyamuk demam berdarah dengue dari telur sampai dewasa memerlukan waktu kurang lebih 10 s/d 12 hari. Hanya nyamuk betina saja yang menggigit manusia karena nyamuk betina butuh suplemen untuk mematangkan telornya dan kebutuhan untuk itu hanya ada di dalam darah. Sedangkan nyamuk jantan memakan sari tumbuhan ( bunga ). Umur rata-rata nyamuk Aedes Aegypti sekitar 1,5 bulan tergantung pada suhu dan kelembaban. Kemampuan terbangnya berkisar 40-100 m dari tempat perkembang biakannya. Anda perhatikan bahwa nyamuk mempunyai tempat beristirahat yang favorit pada benda-benda yang bergantungan di dalam rumah kita, yaitu pada : gordyn, kelambu, gantungan baju, sela lemari dan kolong tempat tidur.
GAMBAR SIKLUS
Description: Siklus Nyamuk

Pemberantasan penyakit DBD dan malaria di Indonesia merupakan bagian dari program pemberantasan penyakit tular vektor yang hingga saat ini masih bermasalah karena belum bisa ditangani dengan tuntas. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dengue dan parasit plasmodium yang ditularkan dari orang yang sakit kepada orang sehat melalui gigitan nyamuk penular atau vektor yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles sp. Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes dari subgenus Stegomya. Diketahui ada 4 tipe vitus penyebab DBD yaang termasuk ke dalam kelompok Anthropod Borne Virus atau arbivirus yaitu dengue 1 sampai 4. dengue 3 merupakan tipe yang paling luas penyebarannya dan sangat berkaitan dengan kasus yang paling berat, diikuti dengan dengue 2, dengue 1 dan dengue 4. Di Indonesia dikenal ada 3 jenis nyamuk Aedes yang bisa menularkan penyakit DBD yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutelaris. Dari ketiga jenis nyamuk ini Aedes aegypti merupakan nyamuk yang paling berperan dalam penularan penyakit ini. Nyamuk berukuran kecil berwarna dasar hitam dengan belang-belang putih dan mempunyai siklus hidup yang sempurna mulai dari stadium telur, larva, pupa (hidup di air) dan stadium dewasa yang hidup beterbangan disekitar kita (Gambar 1).
Description: nurhayati2-1
Gambar 1. Siklus hidup vektor DBD


Nyamuk vektor penyakit malaria adalah beberapa spesies Anopheles sp yang menggigit manusia dengan membawa parasit plasmodium pada kelenjar ludahnya. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi plasmodium yang sampai saat ini belum ditemukan obat yang pasti (sudah resisten) maupun vaksinnya. Diketahui terdapat 4 spesies parasit penyebab malaria yaitu Plasmodium ovale, P. malariae, P. vivak dan P. falciparum. Yang paling ganas adalah Plasmodium falciparum, karena dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak balita dan ibu hamil.

Penanggulangan yang dianggap efektif untuk saat ini adalah pemberantasan nyamuk dengan insektisida, pengobatan penderita dan peningkatan kekebalan host (manusia). Akan tetapi usaha ini pada kenyataannya banyak menimbulkan masalah yaitu resistensi vektor terhadap insektisida, matinya hewan non target, dan banyaknya obat malaria yang sudah resisten terhadap plasmodium. Untuk mengatasi masalah tersebut maka penggunaan Teknik Serangga Mandul (TSM) dapat dianggap sebagai solusi yang tepat dan potensial untuk memberikan konstribusi dalam pengendalian penyakit DBD dan malaria ini. Proses pemandulan nyamuk dilakukan dengan menggunakan teknik nuklir yaitu irradiasi dengan sinar gamma.

Prinsip dasar TSM meliputi pemeliharaan vektor secara masal, orientasi dosis mandul, observasi dinamika populasi, pelepasan serangga mandul ke lapang (over flooding) dan pemantauan populasi. Untuk keperluan TSM ini diperlukan koloni nyamuk secara terus menerus selama program berlangsung. Dalam pelaksanaan TSM akan lebih baik bila dikombinasikan dengan pengendalian vektor secara terpadu, seperti penggunaan insektisida, penerapan 3M, pemakaian kasa di rumah, penggunaan kelambu berinsektisida, perbaikan sanitasi, pemeliharaan predator dll. TSM merupakan teknik pengendalian vektor yang aman bagi lingkungan baik secara tersendiri maupun terpadu dengan teknik pengendalian yang lain.

Tujuan kegiatan ini adalah: mengembangkan teknik nuklir untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes sp dan Anopeles sp sebagai vektor penyakit DBD dan malaria melalui metode TSM. Sasaran kegiatan ini adalah penguasaan metode TSM untuk pengendalian populasi nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles sp sebagai vektor penyakit DBD dan malaria untuk memutuskan siklus penyebarannya.



Sumber:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger | Tested by Blogger Templates | Best Credit Cards